Suara Tabanan

Gandeng SUTA, BTR Tabanan Bantu I Wayan Sedana

TABANAN

174Views

Aksi Yayasan Suara Tabanan (SUTA) mendapat respon Aktivis Bali Tolak Reklamasi (BTR) Kabupaten Tabanan. Terbukti Sabtu, (08/09/2018) Aktivis ‘Teluk Benoa’ itu dengan cepat menyusul langkah SUTA untuk ikut meringankan beban I Wayan Sedana asal Banjar Banjar Dinas Kesiut Tengah Kelod. Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan, Tabanan.

TABANAN, TENAR.CO

Rombongan aktivis BTR, yang dipimpim I Wayan Sukada Sabtu, (08/09/2018) mendatangi Rumah keluarga I Wayan Sedana. Kedatangan para aktivis yang getol memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa ini adalah ingin menyampaikan simpati pada keluarga tuna netra; I Wayan Sedana.

“Kami ikut prihatin atas kondisi yang tengah dialami Bapak I Wayan Sedana”. Papar pimpinan rombongan I Wayan Sukada.

Kebutaan yang dialami oleh Wayan Sedana bukan faktor bawaan tapi karena musibah yang menimpa mata kanannya beberapa tahun lalu. Akibat musibah itu ternyata berakibat sangat fatal bagi Sedana sekeluarga.

Dia menanggung dua orang putra serta satu istri dan satu cucu itu, jelas Sukada harus kalang kabut memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Sedana praktis tidak bisa bekerja. Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka hanya mengandalkan istrinya untuk mengambil alih tanggung jawab keluarganya”. Ucap Sukada yang juga aktivis di LSM SUTA ini menahan haru.

Untuk itu pihaknya bersama Yayasan SUTA terpanggil untuk meringankan beban keluarga itu dari himpitan ekonomi. Dalam kesempatan tersebut BTR menyerahkan sejumlah uang saku serta peralatan masak, pakaian layak pakai dan beberapa perlengkapan sekolah untuk cucu Sedana yang kini baru menginjak bangku Sekolah Dasar Kelas III.

Sementara Sekretaris Yayasan SUTA I Putu Edy Kurniawan yang ikut mendampingi kunjungan kemanusiaan aktivis Bali Tolak Reklamasi (BTR) Kabupaten Tabanan itu mengaku akan terus menindaklanjuti komitmen Yayasan untuk membantu Keluarga I Wayan Sedana.

“Dalam waktu dekat kita akan coba membantu membuatkan mereka dapur. Karena dapur yang dimiliki sudah roboh”. Jelas Edy.

Dipilihnya pembangunan dapur, karena sampai saat ini keluarga ini tidak punya tempat untuk memasak.

“Sebenarnya selain dapur, rumah yang ditempati saat ini sudah semuanya tidak layak huni. Kap rumahnya hampir jebol”. Kata Edy sambil menunjuk bangunan rumas Sedana yang beberapa kap serta genteng rumahnya nyaris sudah jebol itu.

DITABRAK UNDUR-UNDUR

“Kita sudah ajukan dan sudah di survey oleh Dinas PU sekitar tahun 2016 tapi sampai sekarang belum ada berita”. Jelas Arsana.

I Wayan Sedana sebelumnya adalah seorang montir sepeda motor. Pria Kelahiran 1964 itu sempat membuka bengkel di daerah Yeh Malet, Kerambitan.

Profesi sebagai mekanis sepeda motor dia geluti setelah sebelumnya sempat bekerja di sebuah dealer sepeda motor di Kota Tabanan. Berkat pengalaman dan ketekunannya itu, Sedana yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar itu memberanikan diri untuk mandiri.

Ibarat pepatah untuk tidak bisa diraih dan  malang tak bisa dihindari rupanya harus mencoba I Wayan Sedana.

Dalam perjalanan pulang dari rumah mertunya di Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur tahun 2004 silam mata kirinya tertabrak binatang sore; ‘UNDUR-UNDUR’.

Binatang ini tidak disangkanya akan membawa petaka buat dirinya. “Waktu itu sekitar jam 16.00 WITA mata kiri saya ditabrak undur-undur. Padahal waktu itu masih terang”. Kenang Sedana.

Walaupun sudah bolak balik ke doter namun mata kiri Sedana bukan malah sebuh, tapi dia merasakan lama kelamaan mata kirinya buta total. Masih di tahun yang sama (2004) mata kanannya juga dirasakan makin buram dan akhirnya mengalami nasib yang sama dengan mata kirinya.

“Saya buta total”. Ujar Sedana didampingi istri tercintanya Ni Ketut Watri dengan raut wajah sangat sedih.

Konon dia merasa sedih karena beban tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga tidak dapat yang jalankan lagi. “Kasian istri saya harus pontang panting menghidupi kami seorang diri”. Kata Sedana.

Alasannya selain menanggung dirinya, istrinya kata Sedana juga harus menanggung dua orang anak dan satu orang cucu.

“Saya mengucapkan banyak terimakasih, karena SUTA dan BTR telah membantu kami”. Ujar Sedana.

Kepala Banjar Dinas Kesiut Tengah Kelod I Nengah Arsana yang ikut menerima Tim yayasan SUTA pada hari sebelumnya menuturkan pihaknya sudah mengajukan bedah rumah untuk keluarga Sedana.

Bahkan kata dia tahun 2016 Dinas PU sudah melakukan survey, namun rumah yang diharapkan keluarga ini belum terealisasi sampai sekarang.

“Kita sudah ajukan dan sudah di survey oleh Dinas PU sekitar tahun 2016 tapi sampai sekarang belum ada berita”. Jelas Arsana.

(MPT-RIQ/RED)

 

Leave a Reply