Opini

KEKUATAN TRADISI KEAKSARAAN DAN TRADISI DIGITAL

250Views



Berbicara tentang tradisi Keaksaraan, setidaknya kita diingatkan pada kegiatan :membaca, mengamati atau menyimak dan menulis. Tradisi dan kegiatan keaksaraan ini sudah muncul ketika masyarakat kita mulai mengenal sumbersumber tertulis, dengan bahan baku seperti pada lontar, papyrus, Batu Prasati, logam dan lain lain hingga pada penemuan bahan yang terbuat dari kertas.

Oleh : Simon Rubianto *)

Melalui tradisi keaksaraan berbagai penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan ideology ideology besar terbangun yang mempercepat proses kemajuan dunia melalui lahirnya para penulis penulis besar dunia.

Sebut saja, Herodotus, sebagai bapak sejarawan dunia, Karls Max, dengan bukunya yang heboh, Das Capital, Charles Darwin melalui karyanya  The Origin Of Species, telah menjungkir balikan pemikiran dunia tentang teorievolusi asal usul umat manusia. Para penulis Barat baik yang bersifat ideology politik maupun ekonomi dan ilmu pengetahuan, telah mempengaruhi peradaban manusia, terutama dikawasan Asia dan Afrika, dengan lahirnya paham paham baru dunia, seperti : liberalism, sosialisme,

           Kekuatan dan kemenangan revolusi di Indonesia, juga tidak lepas dari tradisi keaksaraan, terutama pada awal era Kebangkitan Nasional awal abad 20. Karya Suwardi Suryaningrat (KiHajarDewantara ) “Andai aku seorang Belanda”, telahmenyerang secara psikologis kolonialis Belandadi Indonesia.

Karya R.A. Kartini“ Habis Gelap terbitlah Terang “ telah membangun dan mendorong pergerakan dan kebangkitan kaum wanita di Indonesia, dengan gerakan emansipasinya hingga saat ini. Tidak kalah pentingnya adalah berbagai tulisan Bung Karno yang ditulis dalam buku“ Dibawah Bendera Revolusi” serta tulisan lain, mampu menggerakkan semangat kebangsaan.

Demikian pula dengan Hatta, dan tokoh tokoh Pergerakan Kebangsaan lainnya, hampir sebagian besar perjuangan dilakukan dengan “Tradisi Keaksaraan” yang sangat kuat.

Artinya :tulisan sebagai bagian tradisi keaksaraan tidak bias dianggap sepele sebagai sebuah senjata pena yang tajam yang sangat mempengaruhi perubahan suatu masyarakat. Hingga zaman Orde Baru dan Reformasi, banyak para tokoh dan budayawan, politisi, ekonom dan pelaku pendidikan melakukan perjuangan eksitensi diri melalui tradisi keaksaraan.

Tradisi keaksaraan telah menjadi bagian fenomena yang membawa perubahan dan perilaku suatu masyarakat, Negara dan juga wajah dunia. Artinya dengan tradisi aksara, sebuah ideologi bisa diekspresikan, hanya :jika ideologi yang lahir dari tradisi aksara memang positif, maka akan membawa perubahan perubahan padahal kearah kemajuan manusia atau masyarakat.

Namun tradisi aksara yang lahir karena sebuah ambisi yang distruktif, maka akan membawa malapetaka dan perpecahan dalam suatu masyarakat.

            Memasuki era Digital dan kemajuan tehnologi internet dan computer pada masa millennia ini, tradisi aksara digital masih relevan.

Jika tradisi aksara hanya bersifat dan mengumbar kebohongan ( Hoax ) dan kebencian , caci maki ( hate speech ), maka akan melahirkan kehancuran dan konflik dalam masyarakat.

Namun tradisi aksara yang dibangun dengan tujuan kesejahteraan, karya karya publikasi yang inovatif dalam bidang pengetahuan, tehnologi dan ekonomi maupun pendidikan, maka akan mempercepat suatu bangsa dalam membangun kesejahteraan masyarakatnya. Inilah esensinya : Tradisi Digital.

            Pertanyaan penting bagi kita, baik pendidik ,orang tua, dan juga pemerintah maupun masyarakat : mampukah kita menjadikan tradisi digital ini, sebagai suatu modal kearah kemajuan dan komunikasi posistif untuk mengembangkan potensi menuju peningkatan kualitas hidup. Atau justru hanya mengumbar kebencian dankebohongan ?

Tradisi Keaksaraan akan menjadi lawan Tradisi Digital jika tidak kita manfaatkan dengan bijaksana. Namun Tradisi aksara dan tradisi digital akan bersinergi dan mampu melahirkan inovasi baru, jika kita menggunakannya dengan penuh tanggungjawab moral dan nilai nilai etika ,estetika agama dan kemanusiaan. Pilihan ada pada kita :Kemajuan atau Kehancuran !

*)Guru Sejarahdan Pengamat Pendidikan

Leave a Reply