Artikel

PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 : TERGESER ATAU MENDOMINASI ?

329Views


Dunia sekarang ini memasuki apa yang disebut dengan Revolusi Industri 4.0. Sebuah tahapan dan gelombang perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju dan modern. Pada era ini banyak sekali “lompatan lompatan” sarana dan prasarana kehidupan yang serba canggih, yang antara lain ditandai dengan : supercomputer, kendaraan tanpa awak, smart robotic, yang hampir memerankan berbagai aktivitas manusia, perkembangan rekayasa genetika yang dinilai mampu memungkinkan manusia untuk memaksimalkan fungsi otak.

Oleh : Simon Rubianto

Semua komunikasi terakses dengan pola yang sangat cepat, system cyber dan adanya networking yang memungkinkan menggeser pola-pola sistem institusi yang tradisional, seperti pasar dan berbagai lembaga pemasaran dan industri. Era ini sering disebut dengan digitalisasi, dengan memanfaatkan smart phone untuk mengakses dan bertransaksi dalam berbagai aktivitas seperti ekonomi, bisnis , sistem politik dan berbagai layanan kebutuhan manusia.

              
 

Pertanyaannya tentu, seberapakah peran manusia dalam era seperti ini ? Melihat fenomena di atas tentu ada kekawatiran kita bahwa akan terjadi “dehumanisasi”. Peran manusia akan semakin sempit dan semua akan digantikan dengan mesin dan alat alat yang canggih. Pola komunikasi tradisional akan tergeser, manusia tentu tidak lagi hidup begerombol, namun lebih senang asyik menyendiri, dan pola atau gaya hidup individualistic  tanpa terasa akan menjadi kekuatan yang menghancurkan komunikasi sosial dan tradisional.

                Dalam dunia pendidikan di Indonesia, anak anak memang diuntungkan dengan akses informasi data yang cepat. Namun tanpa disadari nilai-nilai sosial dan semangat kegotong royongan, akan semakin pudar. Budaya-budaya yang tradisional akan tergerus dengan tontonan dan visualisasi atau game game pada smartphone yang lebih mempertontonkan polarisasi budaya barat yang sering bermuatan kekerasan dan pornografi. Sebuah ancaman budaya dan nilai-nilai karakter akan menjadi pertaruhan hebat, terutama guru-guru yang dituntut untuk tetap menjaga “Gawang” nilai budaya generasi muda”  melawan derasnya gelombang peradaban Revolusi Industri 4.0 tersebut. Seperti judulnya di atas, situasi seperti ini kita akan Tergeser atau Mendominasi ?

                Pendidikan terutama sekolah-sekolah, harus fleksible dan piawai mencermati situasi millennia tersebut. Kurikulum harus bisa merespon dengan arif antara kebutuhan pembelajaran berbasis digitalisasi namun tetap bertumpu pada nilai-nilai budaya dan akan budaya yang kuat dalam bingkai ke Indonesiaan. Pendidikan karakter harus tetap tercermin dalam kemandirian para pelajar. Satu contoh menumbuhkan kreativitas siswa dengan pola wirausaha modern berbasis internet, namun tetap menggali atau berbasis lingkungan setempat. Pola-pola pertemuan dengan orang lain, pelaku pasar tradisional tetap harus dilaksanakan. Wawancara, penelitian kecil dengan lingkungan sejarah, Veteran dan objek-objek lain yang bertema kemanusiaan tetap harus diperkuat bahkan diberi porsi yang lebih.

                Pembentukan kelompok kelompok seni tradisional dan modern tetap relevan diajarkan agar solidaritas dan kesetiakawanan diantara pelajar tetap terjaga.Nilai-nilai religiusitas perlu digali melalui pertemuan dan silahturahmi dari siswa dengan berbagai keyakianan. Mereka harus dibiasakan dalam suasana perbedaan dan heterogenitas. Saling mengunjungi hari-hari besar agama mereka, saling mengucapkan salam melalui medsos, adalah upaya mengikat mereka agar tidak terjebak pada ideologi yang mengarah pada radikalisasi yang fanatik.

                Pembangunan karakter dengan akses yang luas, dengan tatap menggali akar budaya yang dikemas dengan media digitalisasi, akan memberi ruang pada generasi milienia semakin kuat. Melalui kreativitas dalam era digitalissasi dengan bahan baku budaya lokal, maka akan memunculkan pendidikan karakter yang kuat. Akan menempa pelajar menjadi pribadi yang utuh ( holistic ), yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dan olah hati ( jujur, tanggung jawab, peka dengan sesama atau empati ). Siapa yang berperan ? Tentu saja semua komponen pendidikan memiliki peran aktif baik pemerintah, sekolah dan terlebih peran orang tua dan wali di rumah.  Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah keharusan yang yarus dihadapi dengan cermat, kuat dan tepat. Hanya ada dua pilihan kita didominasi atau mendominasi. Pilihan ada pada kita semoga tidak salah dan terjebak! Tergeser atau kita menguasainya dengan kekuatan dan penguatan pendidikan karakter, saatnya bergerak. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi ?

                                                                                                ******

Leave a Reply