Artikel

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEACHING FACTORY (TEFA) DI SMK DAN TANTANGANNYA

89Views



Pelaksanaan Model Pembelajaran Teaching Factory (TEFA), diperlukan perhatian yang sangat serius, sebab di sekolah pembelajaran dilaksanakandengan jumlah siswanya banyak. Perencanaan harus sangat matang dan detail, sumberdaya manusia serta sarana prasarana yang dibutuhkan harus tersedia, sebabpembelajaran  yang dilaksanakan adalah kegiatan nyata sesuai dengan standar industri yang ditetapkan.

Oleh Ir. Yohanis  Ano*)

Pendahuluan

Teaching Factory(TEFA), sebuah model pembelajaran yang saat ini merupakan  trend yang diprogramkan melalui Direktorat Pendidikan Kejuruan (Dikmenjur). Tujuannya adalah (1) mempersiapkan siswa SMK menjadi pekerja, dan pelaku wirausaha, (2) Membantu siswa memilih bidang kerja yang sesuai dengan kompetensinya (3) menumbuhkan kreativitas siswa melalui learning by doing (4) memberikan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja (5) memperluas cakupan kesempatan  rekruitmen bagi lulusan SMK (6)membantu siswa SMK dalam mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja  serta membantu menjalin kerjasama dengan dunia kerja yang aktual (7) memberikan kesempatan kepada siswa SMK untuk melatih keterampilannya sehingga dapat membuat keputusan tentang karir yang akan dipilih (Petunjuk Pelaksanaan , Bantuan Pengembangan Teaching Factory, Dirjen Dikdasarmen, Jakarta, 2017).

Bila sedikit menengok ke belakang pada zaman menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI,Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, ada sistem pendidikan yang di terapkan di SMK yaitu Pendidikan SistemGanda (Dual System/Link and Match). Salah satu perwujudan nyatanya adalah praktek kerja industri (Prakerin) yang istilahnya digunakan sampai tahun 2016, kemudian diganti dengan istilah Praktek Kerja Lapangan (PKL). Dalam sistem ini juga mengajak dunia usaha dan dunia industri(DU/DI),untuk bekerjasama dalam hal peningkatan mutu pendidikan siswa SMK, sehingga nanti tamatannya berkompeten agar di terima di dunia kerja.

Sebelumnya pernah ada sebuah model pembelajaran berbasis produksi (Product Based Learning=PBL)yang wajib diterapkan di SMK,sebagai wadah tempat belajar dicanangkanlah program  Unit Produksi dan Jasa (UPJ). UPJ ini tidak tanggung-tanggung dibiayai oleh pemerintah dengan anggaran yang besar waktu itu dan bagi SMK yang dinilai berhasil, dapat ditingkatkan besaran anggarannya untuk pengembangan. Unit Produksi dan Jasa (UPJ) ini,bertujuan  agartersedia unit usaha sesuai dengan program keahlian yang ada di SMK,sehingga  praktek pembelajarannya dilakukan langsung di tempat tersebut. Diharapkan hasil produksi dan jasanya seperti  yangdihasilkan oleh perusahaan atau industri  di masyarakat, agar  produk/jasa yang dihasilkan dapat dijual ke masyarakat. Dalam pelaksanaannya, ada  SMK yang berhasil bekerjasama dengan perusahaan sejenis sesuai dengan produk yang dihasilkan disekolah dan berhasil, namun tidak sedikit sekolah yang macet ditengah jalan dan hasilnya nihil,  bahkan bisa menjadi konflik diinternal sekolah terutama dalam kontribusi hasil kegiatan untuk PBM, kesejahteraan warga sekolah dan investasi.

Model Pembelajaran Product Based Learning(PBL) dengan wadah belajarnya  UnitProduksi dan Jasa (UPJ) ini sangat mirip tapi tak sama dengan model pembelajaran Teaching Factory(TEFA)yang  sudah dicanangkan. Perbedaannya yaitu pada model pembelajaran Product Based Learning(PBL) peserta didik belajar  di dunia usaha/ndustrikemudian diterapkan di sekolah, sedangkan pada model pembelajaran Teaching Factory (TEFA) pendamping daridunia usaha/dunia industri diundang membimbing peserta didik/siswa di sekolah.Pengalaman pola pembelajaran lain yang dilaksanakan di SMK dan tidak boleh dilupakan adalah Kelas Wirausaha dengan Bisnis Centernya, masing-masing dengan cerita dan tantangannya sendiri. Semua program yang dicanangkan oleh pemerintah pasti bagus dari sudut pandangnya masing-masing, namun perlu proses pelaksanaan yang serius agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan.

Tantangan Implementasi Teaching Factory(TEFA)

a. Persiapan Sumberdaya

Pelaksanaan sebuah program memerlukan persiapan sumber daya manusia maupun sumberdaya fasilitas. Apabila sumberdaya manusianya belum dipersiapkan untuk melaksanakan program ini, maka dikhawatirkan program tidak akan terlaksana maksimal. Diperlukan pemahaman dari semua pihak yang terlibat di sekolah. Semua warga sekolah dari kepala sekolah sampai ke tukang sapu serta stakeholder lainnya(Komite Sekolah, pengawas Pendidikan) harus paham tentang program yang akan dilaksanakan.

Terutama Tim pelaksana yang ditetapkan harus memahami dengan baik program tersebut, sehingga berkoordinasi secara maksimal dalam pelaksanaannya. Bila kesepahaman ini tidak dipersipkan dengan baik, belum lagi guru/tenaga pendidik yang terlibat langsung harus kompeten, padahal belum semua guru memiliki kompetensi yang standar(hal ini tercermin dari hasil uji kompetensi  guru yang dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 2015 lalu) untuk mencapai tujuan model pembelajaran Teaching Factory(TEFA). Kondisi Sumberdaya manusia (SDM) yang diuraikan diatas ini, akan menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program tersebut.Demikian jugasarana prasarana yang tidak tersedia untuk pelaksanaan model pembelajaran Teaching Factory(TEFA) ini.Seperti kita ketahui bahwa belum semua SMK memiliki fasilitas belajar yang benar-benar memadai, apalagi berstandar perusahaan/industri.Hal ini pun merupakan sebuah tantangan dalam pelaksanaan program ini. Bagaimana bisa menghasilkan produk/outputyang persis sama mutunya seperti yang dihasilkan oleh industri? Mungkin saja ada alokasi untuk pengadaan fasilitas/sarana-prasarana dari anggaran yang disediakan, kalau boleh usul dipersiapkan sebelumnya kemudian diverifikasi kelengkapannya, baru program ini dilaksanakan, agar hasil yang diperoleh benar-benar maksimal.

            Mengapa kita tidak boleh main-main dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Teaching Factory (TEFA)ini?Karena kita tahu bersama stigma/kesan masyarakat konsumen terhadap hasil pekerjaan yang dikerjakan oleh siswa.Sebagai contoh, order servis sepeda motor, konsumen bisa saja tidak yakin dan berkata “jangan-jangan sepeda motor saya jadi barang uji coba nanti tambah rusak”.Tentu kita tidak terlalu pesimistis dalam hal ini, tetapi perlu persiapan yang lebih matang.

Proses Pelaksanaan

Pelaksanaan Model Pembelajaran Teaching Factory(TEFA), diperlukan perhatian yang sangat serius, sebab di sekolah pembelajaran dilaksanakan dengan jumlah siswanya banyak. Perencanaan harus sangat matang dan detail, sumberdaya manusia serta sarana prasarana yang dibutuhkan harus tersedia, sebab pembelajaran  yang dilaksanakan adalah kegiatan nyata sesuai dengan standar industri yang ditetapkan.Peserta didik/siswa dalam jumlah yang banyak dan karakteristiknya berbeda, ini menjadi tantangan pengelolaan kelas yang sulit.Contohnya bilajumlah siswa 36 orang per kelas, dikelompokkan 8 orang tiap kelompok, akan terdapat 4-5 kelompok, dan jumlah  anggota kelompok yang besar ini  akan sulit pendampingannya, apalagi jenis materi kegiatan yang dilaksanakan berbeda-beda.

Tantangan berikutnya bila model ini dilaksanakan dalam jam pelajaran wajib, maka akan berbenturan dengan jadwal mata pelajaran normatif dan adaptif yang tidak semua bisa menggunakan model pembelajaran teaching factory(TEFA) ini, sedangkan pekerjaan/order yang diterima harus diselesaikan tepat waktu. Karena itu diperlukan pengaturan jadwal belajar yang lebih fleksibel, suatu contoh untuk mata pelajaran yang menggunakan model pembelajaran teaching factory(TEFA)  diblok jadwalnya beberapa hari dalam seminggu, sedangkan mata pelajaran yang tidak menggunakan model pembelajaran teaching factory(TEFA)dilakukan melalui pembelajaran “kelas umum” pada jadwal tertentu pada tingkat/kelas yang memiliki kompetensi dasar yang sama sesuai mata pelajarannya.

Bila tidak dilakukan pengaturan jadwal, menurut penulis merupakan tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program ini, misalnya akan terdapat peserta didik yang terlambat materi pelajaran dari mata pelajaran tertentu disebabkan peserta didik yang bersangkutan melaksanakan tugas piket pada program teaching factory(TEFA). Apa yang diungkapkan disini sebenarnya merupakan ringkasan akumulasi pengalaman yang terjadi di SMK yang sudah  pernah melaksanakan kurikulum Product Based Trainning (PBT) dengan Unit Produksi dan Jasa (UPJ), sebagai tempat belajar di sekolah. Dan harapannya sama dengan model pembelajaran teaching factory(TEFA), dimana produk/hasil pembelajarannya diharapkan  sama dengan produk yang dihasilkan oleh dunia usaha/dunia industri dan diterima oleh masyarakat konsumen.  Namun dengan jujur dikatakan belum semua SMK pelaksana kurikulum ini,  berhasil dengan gemilang, walaupun memang ada beberapa SMK yang dapat unggul dalam menghasilkan beberapa jenis produk.

Pengawasan

Dalam pelaksanaan program apapun termasuk model pembelajaran teaching factory ini, sangat diperlukan pengawasan melekat, agar dapat diketahui pelaksanaannya memang benar-benar berjalan. Karena itu tim pelaksana harus serius memantau setiap langkah operasional sesuai petunjuk teknis yang telah dibuat oleh Direktorat Dikmenjur, terutama dalam pertanggunjawaban anggaran yang telah dialokasikan pemerintah.

Bukan kita mencurigai apapun, namun kita ingin program tersebut berhasil sesuai tujuannya dan bermanfaat bagi sekolah, masyarakat, dunia usaha/dunia industry, terutama pemerintah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai bersama ini.

Evaluasi

Dengan melaksanakan tugas pengawasan yang baik oleh semua pihak (tim pelaksana), baik pusat, provinsi,  dan sekolah akan diperoleh masukan-masukan atau data tentang kemajuan, keberhasilan dan faktor penghambat/penyebab terjadinya masalah dalam pelaksanaan  model pembelajaran teaching factory(TEFA)ini.

Bila evaluasi ini tidak dilaksanakan secara periodik, maka perbaikan dan tidaklanjut program ini akan terhambat, bahkan mungkin bisa macet. Selanjut mungkin akan dibuat program baru dengan nama baru dan dilaksanakan kembali, dan hasilnya akan berakhir dengan masa jabatan pejabat yang membuat program tersebut.

3. Penutup

Berdasarkan uraian dalam tulisan ini, maka perlu dicermati beberapa hal dalam penerapan  model pembelajaran teaching factory(TEFA) diantaranya :

Model pembelajaran Teaching Factory(TEFA), adalah program pemerintah yang telah ditetapkan dan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, maka semua pihak yang terlibat dalam pekasanaan program ini harus memperhatikan tantangan-tantangan yang perlu untuk dipersiapkan seperti sumber daya manusia (Pendidik dan tenaga kependidikan), mekanisme pelaksanaan, serta sarana prasarana yang dibutuhkan, dan pengaturan jadwal pelaksanaan PBM di kelas, agar kegiatannya berjalan optimal mengingat pembelajaran melibatkan jumlah siswa per kelas yang banyak.

Diperlukan koordinasi yang intensif dengan dunia usaha/industri dalam seluruh proses yang dilakukan dalam model pembelajaran teaching factory(TEFA)ini.

Pengawasan dan evaluasi sangat penting dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan, baik pusat, provinsi maupun sekolah dan stakeholder lainnya, agar program ini berjalan sebaik-baiknya. Semoga bermanfaat!

*) Penulis adalah guru bidang otomotif di SMK Negeri 2 Negara, Tinggal di Jl. Kresna, Desa Baluk,

Kec. Negara, Kab. Jembrana, Bali. CP. yohanisano84@gmail.com. Hp. 081337932375

Leave a Reply