Opini

PENJAJAHAN TUBUH PEREMPUAN BALI: PERKAWINAN NI NYOMAN POLLOK DENGAN LE MAYEUR  

POLLOK

2.2KViews

Buku kisah seorang model dari Desa Kelandis (Denpasar), Ni Pollok, Model dari Desa Kelandis, yang disusun oleh Yati Maryati Miharja (1976), menyisakan kisah pahit, satu model kolonialisasi yang tidak pernah diungkap. Praktik kolonialisasi ini disamarkan oleh pernikahan antara Adrien Jean Le Mayeur de Merpres dan Ni Pollok (1935). Asumsi normatif terhadap perkawinan di atas landasan cinta, telah menghapus berbagai kemungkinan praktik kolonialisasi yang dijalankan seorang pelukis dan modelnya dalam kehidupan rumah tangga yang dilatarbelakangi keindahan Pantai Sanur (matahari, warna langit, dan ombak).

 Oleh Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum.

foto; Net

           Mungkin kolonialisasi, eksplorasi kekayaan tanah jajahan dan manusianya, hanya dimaknai dalam konteks masyarakat atau bangsa. Karena itu, kolonialisasi tidak pernah dianggap ada dalam relasi-relasi personal atau cukup dipandang sebatas riak kecil saja. Namun demikian, kisah Ni Pollok yang dituturkan kepada Yati Maryati Miharja, mengungkap kolonialisasi terjadi di antara dirinya dan Le Mayeur. Tulisan ini membicarakan bagaimana praktik kolonialisasi yang jahat, diskriminatif, namun terasa amat manis dan benar, terhadap seorang perempuan desa terjadi justru lewat pernikahan antarbangsa.

Tujuan Le mayeur ke Bali tidak sepenuhnya untuk mengagumi budaya dan menemukan tanah impian, seperti apa yang terjadi pada K’tut Tantri, penulis Revolusi di Nusa Damai. Bali yang sedang dijual di dunia Barat oleh para pelaku industri pelancongan kolonial, bagi Le Mayeur sama sekali bukan tujuan mereguk keindahan yang telah hilang dari Eropa akibat Revolusi Industri yang melahirkan modernisasi; tetapi tanah yang sangat kaya dengan keindahan untuk diekspliotasi jadi lukisan yang laku keras di pasar seni atau balai lelang dunia.

Karena itu, pilihannya kepada Ni Pollok, sama sekali tidak dapat dipahami dari segi cinta sepasang insan dan Ni Pollok sendiri mempertanyakan cinta Tuan Le Mayeur. Ni Pollok di mata Le Mayeur adalah ikon-ikon Bali sebagaimana dicetak atau dinarasikan di atas brosus-brosur pariwisata di Barat pada tahun 1930-an, seperti eksotisme, buah dada yang montok dan penari legong. Le Mayeur menemukan ikon-ikon tersebut pada diri seorang penari legong dari Desa Kelandis, Ni Pollok. Jadi, inilah pertimbangan kolonialistik, bagi Le Mayeur menikahi Ni Pollok. Lewat perkawinan ini, kolonialisasi berjalan secara halus dan tanpa jejak. Ekspolitasi atau ekplorasi Le Mayeur sebagai agen kolonialisasi Barat, tampak pada pemanfaatan Ni Pollok sebagai model lukisan-lukisannya, selama 26 tahun. Kerajaan Belgia pun sesungguhnya pernah menjajah Bali namun praktik kolonialisasi tipe ini tidak pernah dibicarakan dalam kajian kolonial.

Bagi Le Mayeur, Ni Pollok tidak ubahnya “tanah” yang kaya keindahan, seperti Belanda memandang Jawa dan Sumatera sebagai pulau yang subur dan bisa ditanami apa saja dalam sistem tanam paksa. Ekspolitasi atas diri Ni Pollok, yang telah ditaklukkan oleh Le Mayeur lewat perkawinan, berupa sejumlah besar lukisan yang mengangkat dirinya menjadi pelukis termashyur di dunia dan kaya raya.

Ni Pollok benar-benar ada di bawah kuasa Le Mayeur dan tidak mampu berkutik sama sekali. Pada diri Le Mayeur melekat pandangan-pandangan kolonialis mengenai tanah jajahan, segala kekayaan alam dan budaya diminati dan bangsa pemiliknya dibenci, direndahkan, dibiarkan bodoh, dan diperbudak. Dengan santun dan penuh kasih sayang, Le Mayeur menerapkan pandangan tersebut terhadap Ni Pollok, yang ternyata dilindungi oleh lembaga perkawinan dan hidup satu rumah di pulau tropis yang indah. Le Mayeur mengagumi kepintaran Ni Pollok menari legong, keindahan buah dadanya, lekuk-lekuk tubuhnya, namun diam-diam, di mata Le Mayeur, Ni Pollok hanya perempuan rendahan, penari dari desa, dan pemelihara babi yang kotor. Pandangan Le Mayeur ini semakin jelas jika dikaitkan dengan statusnya sebagai keturunan bangsawan kerajaan Belgia dan berkulit putih. Sebaliknya, Ni Pollok sendiri bukan dari keluarga triwangsa (ningrat). Lihat saja namanya, “Ni Pollok” tanpa embel-embel kasta terhormat.

Dalam kisah hidupnya, sebagaimana disampaikan Ni Pollok kepada Yati Maryati Miharja yang mewawancarainya untuk menulis buku tersebut, memang Le Mayeur mengajari dirinya baca tulis di atas pasir Pantai Sanur, menggunakan ranting-ranting yang terdampar; dan berbahasa Inggris; namun hal ini tidak bisa dipisahkan dengan praktik-praktik kolonialisasi dan eksploitasi. Apapun segala kebaikan yang dilakukan oleh Le Mayeur selalu untuk meraih keuntungan yang lebih besar bagi dirinya yang kolonialis. Hal ini merupakan karakter kolonialisme, meraih keuntungan terbesar bagi dirinya karena motif kolonialisasi adalah perut lapar.

Dari sisi Ni Pollok, menerima dan membiarkan dirinya yang terkolonialisasi semakin bisa dipahami dengan konsep patriarkhi Bali (purusaa), yang mengatur posisi lebih rendah perempuan ketimbang laki-laki. Ideologi patriarkhi inilah yang menjadi penawar rasa dan harga diri yang direndahkan oleh Le Mayeur. Sebagai perempuan Bali ketika itu. menjadi istri saja sudah cukup, apalagi istri seorang Barat berkulit putih, keturunan bangsawan. Namun demikiam, ini tentunya bukan kekalahn Ni Pollok tetapi kemurnian hati sebagai perempuan Bali dalam memandang dunia, termasuk perkawinannya sendiri dengan perspektif seorang perempuan Bali, sesungguhnya ia telah melampaui tembok-tembok budaya Bali.

Praktik kolonialisasi Le Mayeur yang paling kentara atas Ni Pollok, ketika ia menolak keinginan istrinya  untuk hamil, melahirkan, dan menyusui. Sebagai perempuan Bali yang mewarisi spirit kesuburan mitologis Men Brayut, Ni Pollok tentu ingin memiliki anak, buah cintanya terhadap Le Mayeur, persembahan kepada suami, lebih menjadikan dirinya terhormat di masyarakat. Tapi, di luar dugaan Ni Pollok, Le Mayeur mengemukakan alasan yang bagi seorang perempuan Bali, sangat aneh dan sepele. Ni Pollok tidak boleh hamil karena akan merusak bentuk tubuh dan buah dadanya sehingga tidak indah lagi ketika dilukis. Jadi amat jelas, apa sesungguhnya tujuan Le Mayeur ke Bali dan menikahi seorang penari Legong berkasta sudra; bukan untuk membina keluarga tetapi untuk mengekspliotasi tubuh dan buah dada Ni Pollok. Le Mayeur mengkolonialisasi Bali atas tubuh Ni Pollok.

Penolakan Le Mayeur terhadap keinginan Ni Pollok memiliki anak walau hanya seorang, juga dapat dikaitkan dengan status kebangsawanannya. Sebagai bangsawan Belgia, ia memposisikan dirinya jauh lebih tinggi ketimbang penari legong yang buta huruf. Le Mayeur tetap saja memandang Ni Pollok, walau telah menjadi istrinya, sedemikian rendah, suatu pandangan yang diskriminatif. Hal ini memang lebih mudah dipahami dalam konteks nyai dan praktik pergundikan di Hindia Belanda. Ada ribuan wanita pribumi yang mengalami kolonialisasi personal dalam praktik pernyaian dan pergundikan (Baay, 2017).

Leave a Reply