Opini

PROYEK MERCUSUAR KEMANUSIAAN: TANTANGAN PEMIMPINAN BALI MENDATANG

OPINI

419Views

Apakah pemimpin Bali mendatang berpikir mengenai pembangunan SDM? Semoga! Maka yang paling dekat dengan pikiran tersebut, tentu pendidikan. Pikiran ini mungkin berhadapan kendala struktural karena hegemoni sistem pendidikan nasional atau statosentris, menyulitkan pemimpin di daerah melakukan pembaruan pendidikan. Peran pemimpin daerah dalam hal ini bisa jadi sangat terbatas, mengawal pelaksanaan sistem pendidikan nasional. Hal inilah yang menyebabkan tidak ada pemimpin di daerah  menonjol dalam bidang pembangunan pendidikan, termasuk di Bali.

 

PROYEK MERCUSUAR KEMANUSIAAN:

TANTANGAN PEMIMPINAN BALI MENDATANG

Oleh Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum

 

Sejalan dengan peran mengawal pelaksanaan pendidikan nasional, ada asumsi bahwa pendidikan di daerah telah berjalan baik-baik saja. Energi dan dana bisa dialihkan untuk bidang lain. Tapi sebenarnya pandangan atau asumsi tersebut tidak cukup atau sebagai “jebakan”. Selebihnya, pandangan ini mengandung peluang dan tantangan bagi seorang pemimpin daerah, demikian pula pemimpin Bali mendatang. Hal ini memang sangat bergantung kepada visi kependidikan dalam rangka pembangunan manusia (SDM) yang diperjuangkan oleh pemimpin tersebut.

Tulisan ini mencoba memahami kepemimpinan Bali mendatang dari aspek pembangunan pendidikan. Dengan maksud mengajukan pandangan bahwa pembangunan pendidikan sama dengan pembangunan SDM Bali. Bagi pemimpin Bali mendatang, pelaksanaan pendidikan nasional di Bali perlu dikritisi. Kemapanan pendidikan nasional di Bali tidak cukup menjadi alasan bagi seorang pemimpin berpuas diri. Yang harus dilihat, bagaimana dampak pendidikan tersebut bagi pembangunan SDM Bali. Apakah sudah memenuhi harapan? Orientasi pemimpin Bali mendatang, pada pembangunan SDM Bali dan hal ini terkait erat dengan pembangunan pendidikan.

Pembangunan pendidikan dengan sasaran pembangunan SDM, terkait dengan konstelasi manusia Bali saat ini dan mendatang. Konstelasi ini terdiri atas tiga titik. Pertama, SDM berkarakter budaya Bali (Hindu dan adat). Apakah pembangunan SDM memandang penting karakter budaya Bali? Hal ini membuka pandangan mengenai keberadaan pewarisan dan penanaman karakter budaya pada siswa sejak TK hingga SMA/SMK, yang sesungguhnya dalam praktip pendidikan formal tidak tampak sama sekali. Lalu, dimana generasi muda menempa kepribadian agar mewarisi karakter berbudaya Bali? Berhadapan dengan hal ini, para pemimpin Bali sebelumnya bergeming. Mereka mengira sudah cukup memberi karakter budaya Bali lewat kesenian, pakaian adat, dan ritual sekolah bernuansa Bali. Itu semua hanya hingar-bingar belaka.

Kedua, tidak bisa dipungkiri, pembentukan karakter keindonesiaan atau nasionalisme  lewat pendidikan formal terjadi sedemikian kuat. Ruang kedaerahan sama sekali tidak ada karena pendidikan nasional tampaknya mempertentangkan daerah dan Indonesia. Seluruh mata pelajaran negara menguasai siswa sejak TK hingga universitas. Siswa tidak mampu lagi berbahasa Bali. Mereka tidak mengenal aksara Bali. Begitu pula sastra Bali. Ketenaran I Gusti Nyoman Lempad atau penderitaan Ni Pollok, seorang model dari Klandis yang diperistri oleh Le Mayeur, tidak pernah menguras emosi para siswa. Ketika bahasa Bali dihapus pun pemerintah daerah tidak mampu berbuat banyak. Lalu menyurutkan minat generasi muda mempelajari bahasa Bali. Apakah pemimpin Bali mendatang tetap dapat menerima pembangunan SDM Bali seperti apa yang dilakukan oleh sistem pendidikan nasional? Dari sisi itulah, pemimpin Bali mendatang juga harus mengkritisi pendidikan di Bali.

Ketiga, generasi muda Bali hidup dalam dinamika globalisasi. Apakah pembangunan SDM dalam pendidikan formal menjadikan anak-anak Bali mampu melintasi ruang budaya Bali dan nasionalisme? Artinya, interaksi dunia global menjadi pilihan dan sasaran. Identitas atau karakter budaya Bali dan nasionalisme Indonesia tidak dianggap bernilai. Identifikasi generasi muda Bali tidak lagi kebudayaan Bali atau nasionalisme Indonesia tetapi identifikasi diri sebagai generasi global. Terhadap hal ini, apakah pemimpin Bali sama sekali tidak memiliki pilihan atau keberpihakan yang dimulai dari pengkritisan pendidikan nasional di Bali. Apakah generasi muda dengan tipe ketiga ini yang direncanakan melalui pendidikan formal? Karena itu, pemimpin Bali mendatang, mau tidak mau harus memikirkan hal ini, tidak semata membiarkan anak-anak Bali melintasi adat dan nasionalisme, memilih menjadi generasi dengan nilai-nilai hidup global. Di dalam kerangka inilah, pemimpin Bali mendatang diminta pemikirannya dalam membangun pendidikan di Bali dalam sinergi dengan sistem nasional, untuk melahirkan SDM Bali yang tetap berkarakter Bali, nasionalis, dan global.

Sehubungan dengan ketiga kemungkinan indentifikasi SDM Bali tersebut, pemimpin Bali seyogyanya mampu mengembangkan dimensi kepemimpinan yang berwawasan kependidikan, guna menghindari: (1) SDM picik terhadap nasionalisme dan globalisasi, (2) SDM yang tercerabut dari karakter budaya Bali dan terseret internasionalisme, dan (3) terdesak atau minder di tanah Bali sendiri.

SDM picik terlalu mengagungkan adat dan berorientasi kepada masa lalu. Sikap mengagungkan adat secara membabi buta digunakan untuk memusuhi modernisasi pikiran-pikiran, dikhawatirkan bisa mengalahkan adat dan mengehmbuskan isu sosial antibudaya Bali. Adat dibela tetapi hanya dalam rangka penguasaan individu dan ketika berhdapan dengan pihak luar, tidak bertaring lagi.

Tercerabut dari adat  Bali menjadi generasi tanpa identitas. Tidak memiliki rasa bangga dan hormat kepada kebudayaan Bali. Upacara dan ritual hilang. Hubungan sosial menyusut.  Terdesak di tanah sendiri secara ekonomi karena sibuk melakukan upacara atau menyamabraya. Waktu dan tenaga terkuras untuk itu demi membangun harmoni sosial.

Itulah kemungkinan buruk SDM Bali yang harus dihindari dan hal ini bisa dibangun melalui pendidikan. Kekuatan politik pemimpin Bali bisa membantu mewujudkan visi ini dalam dunia pendidikan. Pembangunan pendidikan adalah sebuah gerakan pembelajaran. Pembelajaran sebagai gerakan!

Pemimpin Bali mendatang harus mampu menjadikan pendidikan dari jennang TK-SMA/SMK sebagai alat pembangunan SDM Bali. Untuk mencapai pendidikan yang demikian ini, pemimpin Bali mendatang dituntut mampu membangun pendidikan itu sendiri. Yang mendesak dari pembangunan pendidikan adalah menjadikan pendidikan sebagai sebuah gerakan sosial. Jadi, kegiatan belajar dan mengajar tidak hanya untuk mencapai tuntutan kurikulum nasional. Pemimpin Bali yang akan datang, patut menjadikan pendidikan sebagai gerakan sosial untuk pembangunan SDM Bali yang tidak picik memahami adat atau budaya Bali, serta berjiwa nasionalis serta hidup dalam wawasan global.

Pemimpin Bali yang akan datang mungkin masih perlu melanjutkan program sekolah gratis atau pendidikan murah tetapi hal ini sesungguhnya sudah “basi”. Pendidikan bukan soal murahnya dan terjangkau secara adil saja tetapi kualitas. Yang penting bagi pemimpin Bali mendatang, menjadikan pendidikan di Bali sebagai gerakan dalam pembangunan SDM Bali, menjadikan pendidikan sebagai proyek mercusuar kemanusiaan. @

TENTANG PENULIS

 I Wayan Artika lahir di Desa Batungsel, kecamatan Pupuan, kabupaten Tabanan, Bali, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Di samping menjadi dosen, rutin menulis esai atau opini bertema pendidikan, cerpen, menerbitkan buku, memberi pelatihan menulis, dan menyelenggarakan proyek Desa Belajar. Pendidikan dan Manusia  merupakan buku kumpulan tulisan mengenai pendidikan Indonesia yang seluruhnya telah dimuat di koran Bali Post. Buku ini bisa dipandang sebagai kelanjutan  Pendidikan Tanpa Rasa Ingin Tahu  (2010). Kedua buku ini membuktikan konsistensi dan keterlibatan penulis dalam menanggapi secara kritis isu-isu pendidikan. Kumpulan esai dalam bidang sosial dan budaya Bali terangkum dalam buku Kembali ke Bali (2008). Tesis mengenai duka-cerita Jayaprana Layonsari yang diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan disertasi yang mengkaji puisi dan cerpen Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat 1950-1965), diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Udayana, juga telah dan dalam persiapan terbit. Sastra dan Kenyataan  (2016) adalah buku teori sosiologi sastra yang menjelaskan berbagai simpul hubungan sastra dan realitas.  Di samping itu, telah menghasilkan dua novel, Incest (2008) yang akan terbit edisi 2 dalam judul Kemoning (2018) dan  Rumah Kepompong (2009).

 

 

Leave a Reply