Opini

 PROYEK PENDIDIKAN KAUM POLITISI

OPINI

411Views

Walaupun Paulo Freire mengemukakan, pendidikan sesungguhnya amat politis namun kaum politisi memandang pendidikan tidak banyak menjanjikan sebagai komoditas politik. Barangkali karena modal politik proyek pendidikan sangat besar sementara hasil langsung tidak terasa. Mungkin pula karena kaum politisi menilai bahwa pendidikan tidak patut lagi dipersoalkan. Atau lantaran pendidikan telah ditangani dengan baik oleh pemerintah. Bisa pula, kaum politisi menyikapi dunia pendidikan harus steril politisasi. 

 PROYEK PENDIDIKAN KAUM POLITISI

 Oleh Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum

                        Beberapa politisi pemberani membangun proyek pendidikan, misalnya lewat “sekolah gratis”. Namun proyek ini tidak diapresiasi tinggi oleh masyarakat karena dinilai belum menawarkan terobosan hebat dan memperbaiki kualitas pendidikan secara mendasar. Proyek politik “sekolah gratis” sama saja dengan proyek-proyek politik sesaat menjelang pemungutan suara, sebagaimana transaksi di sebuah pasar, segalanya berakhir hari itu pula. Setelah pencoblosan, transaksi politik selesai. Transaksi ini minus ikatan politik karena tanpa loyalitas ideologis.

Rasa enggan kaum politisi menggarap proyek pendidikan didasari alasan yang mencerminkan hakikat pendidikan, sebagai proses yang berkelanjutan, hasilnya tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Berbeda halnya dengan proyek infrastruktur fisik, dengan hasil seketika. Kaum politisi memandang, proyek fisik lebih menjanjikan dukungan masyarakat karena dalam waktu singkat janji menjelma bukti.

Namun demikian, sedikit politisi tampil berani menggarap proyek pendidikan, jika mau sungguh-sungguh ternyata menghabiskan anggaran yang sangat besar, tidak cukup hanya untuk satu atau dua tahun tetapi berkelanjutan. Pilihan dalam bidang proyek pendidikan ternyata menjadi batu ujian kualitas visi politiknya, yang tidak semata untuk meraih kendaraan dan kedudukan politik tetapi benar-benar melaksanakan idealisme pendidikan.

PROYEK MERCUSUAR KEMANUSIAAN: TANTANGAN PEMIMPINAN BALI MENDATANG

Tanpa banyak omong, politisi melakukan kajian terhadap segmen-segmen pendidikan mana yang diabaikan oleh pemerintah, dengan cara “membongkar” segala kemapanan pendidikan, yang menjadikannya tampak tanpa ada persoalan berarti. Dalam hal ini, politisi tidak menomorsatukan pembangunan fasilitas pendukung pendidikan tetapi yang menjadi sasaran adalah sistem ideal pendidikan yang terukur dan operasional. Proyek pendidikan ini dimulai dari nol, dengan pembangunan fondasi, bukan mendompleng pendidikan yang telah ada.

Dalam hal ini politisi bekerja dengan melibatkan para ahli dan praktisi pendidikan yang hebat, dengan tetap harus memiliki visi ideologis pendidikan yang merupakan agenda politiknya. Ideologi politik merupakan dasar, panduan, dan tujuan. Sebut saja, ideologi pendidikan yang dipilih dari sejumlah kemungkinan. Pertama, apakah pembangunan sistem pendidikan bagi kaum teknokrat. Kedua, apakah mendirikan sekolah supermewah ekslusif  bagi kaum kaya raya. Ketiga, apakah sekolah bagi kaum miskin dengan boleh saja mengabaikan kualitas. Maka di antara berbagai kemungkinan ini, yang dipilih, sekolah yang benar-benar berkualitas bagi anak-anak cerdas yang lahir di keluarga miskin di pedesaan. Mereka tidak memiliki kesempatan bersekolah berkualitas karena sekolah kategori ini kini sangat mahal dan berada di kota sehingga untuk meraihnya diperlukan biaya sekolah yang sangat mahal serta biaya hidup selama di kota.

Sejalan dengan pilihan tersebut, penyediaan biaya sekolah saja masih sangat jauh memadai. Demikian pula hanya dengan pembebasan uang administrasi, seperti SPP. Karena itu, proyek pendidikan ini mengambil alih seluruh tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, sekurang-kurangnya selama tiga tahun. Bukan sekadar tanggung jawab dalam rangka hanya sanggup memenuhi kebutuhan minimal, sebagaimana halnya anak-anak yang dipelihara di panti-panti sosial. Proyek pendidikan ini memberi segala jaminan kualitas tinggi. Orang tua sama sekali tidak dibebani oleh biaya apapun. Orang tua bisa memperoleh garansi atas pengasuhan anaknya dengan sangat baik, tanpa harus dikhawatirkan. Bisa dihitung, selama tiga tahun misalnya beban orang tua beralih dari keluarga ke proyek pendidikan ini. Dalam rangka mencapai kualitas ideal pendidikan yang ditawarkan, para siswa dididik secara holistik dalam sistem asrama, sistem persekolahan yang telah hilang dari masyarakat. Hal ini menunjukkan, pendidikan tidak hanya proses setengah hati yang berjalan di kelas-kelas tetapi merupakan proses holistik, sebagaimana kehidupan para calon pendekar di biara Shaoilin. Dengan sistem asrama, pendidikan hidup berjalan tiada henti selama 24 jam dalam asuhan para guru terpilih. Dengan demikian, para siswa melakoni hidup belajar holistik, bermakna, dan optimistik terhadap masa depan. Mereka belajar dalam tindakan nyata dan bukan belajar dalam paksaan formalisme sosial, dimana siswa sesungguhnya mengalami keterasingan seperti halnya kaum buruh menurut teori Karl Marx.

Proyek pendidikan memang melewati tahap-tahap berliku. Mulai dari memilih siswa yang cerdas namun terancam putus sekolah karena lahir di keluarga miskin. Memastikan bahwa mereka memiliki harapan terhadap sekolah, memiliki daya juang dan daya saing, berani melawan kemiskinan dengan kekuatan mimpi dan harapannya, mendesain lembaga pendidikan yang menjadi “candradimuka” penuh kasih saya dan disiplin tinggi, jalan menuju masa depan yang jauh lebih menjanjikan daripada masa kini di keluarganya. Harapan  ini sangat penting diyakini bahwa masih ada pada calon siswa mengingat banyak sekolah yang tidak memupuk dan membina harapan apapun atas masa depan para siswa. Tahap selanjutnya, memasukkan mereka di dalam sistem sekolah, membiayai seluruh kebutuhan hidupnya selama tiga tahun, menyediakan guru terbaik, mengembangkan pola asuh, dan memberi layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka serta visi ideologis, termasuk mempersiapkan kehidupan mereka setelah tamat. Seluruh tahap ini harus dilakukan oleh tim kerja yang dibentuk sendiri oleh politisi. Ibarat membangun taman, sang perancang turun langsung menemukan aneka bibit tanaman untuk dibawa ke taman.

Keberhasilan proyek ini yang secara angka politik sebenarnya tidak spektakuler karena kapasitasnya tergolong sangat terbatas, namun keberhasilannya menjadi gema yang luar biasa dan menyebar luas dalam waktu singkat. Perhatian publik tertuju kepadanya. Sang Politisi menuai pujian. Gema inilah buah politik. Setelah bertahun-tahun, barulah masyarakat bisa menyaksikan sosok proyek politik ini. Sesuatu yang semula dirasa tidak mungkin, idealisme politisi ternyata sanggup mewujudkannya.

Politisi memiliki segala daya sosial. Sayang sekali terlalu banyak politisi yang “keder” dan kurang berani mengambil risiko sosial. Kaum politisi merendahkan segala daya politik yang dimilikinya dengan hanya bermain di zona nyaman atau zona status quo. Artinya proyek politik kaum politisi pada umumnya kurang humanis, tidak bersentuhan dengan segi kemanusiaan. Karena itu proyek politik tidak berdampak terhadap perbaikan kualitas hidup sosial masyarakat. Dewasa ini, kaum politisi berhadapan dengan masyarakat yang cerdas, tidak cukup lagi bermain di zona nyaman. Masyarakat membutuhkan kaum politisi yang bernai “berkesperimen” dan mengambil risiko ketika menyelenggarakan proyek politik. Proyek pendidikan kaum politisi merupakan satu pilihan proyek politik kemanusiaan dalam membangun infrastruktur sosial untuk mengimbangi proyek politik yang hanya berupa infrastruktur fisik.

Kerena itu, tidak ada artinya lagi proyek-proyek sesaat menjelang hari pencoblosan. Tidak ada lagi proyek politik berupa bantuan fisik yang kurang berdampak pada perubahan paradigma sosial. Proyek politik kaum politisi harus masuk ke dalam peningkatan kualitas sosial. Dalam bidang pendidikan misalnya, memang segalanya kelihatan telah berjalan dengan baik. Namun, politisi yang cerdas akan menggunakan segala daya politiknya untuk mengkaji fakta sosial yang sudah tampak baik di permukaannya. Karena itulah, dunia pendidikan masih menunggu pembenahan kritis kaum politisi. Hakikat pendidikan yang hasilnya tidak bisa dilihat secara langsung dalam waktu singkat, seharusnya tidak menjadi alasan kaum politisi untuk abai. @

 

TENTANG PENULIS

I Wayan Artika lahir di Desa Batungsel, kecamatan Pupuan, kabupaten Tabanan, Bali, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Di samping menjadi dosen, rutin menulis esai atau opini bertema pendidikan, cerpen, menerbitkan buku, memberi pelatihan menulis, dan menyelenggarakan proyek Desa Belajar. Pendidikan dan Manusia  merupakan buku kumpulan tulisan mengenai pendidikan Indonesia yang seluruhnya telah dimuat di koran Bali Post. Buku ini bisa dipandang sebagai kelanjutan  Pendidikan Tanpa Rasa Ingin Tahu  (2010). Kedua buku ini membuktikan konsistensi dan keterlibatan penulis dalam menanggapi secara kritis isu-isu pendidikan. Kumpulan esai dalam bidang sosial dan budaya Bali terangkum dalam buku Kembali ke Bali (2008). Tesis mengenai duka-cerita Jayaprana Layonsari yang diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan disertasi yang mengkaji puisi dan cerpen Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat 1950-1965), diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Udayana, juga telah dan dalam persiapan terbit. Sastra dan Kenyataan  (2016) adalah buku teori sosiologi sastra yang menjelaskan berbagai simpul hubungan sastra dan realitas.  Di samping itu, telah menghasilkan dua novel, Incest (2008) yang akan terbit edisi 2 dalam judul Kemoning (2018) dan  Rumah Kepompong (2009). @

Ket. foto : NET

Leave a Reply